Senin, 21 Oktober 2013

Laporan Praktikum Pembuatan Bioetanol Dari Limbah Buah

PEMBUATAN BIOETANOL DARI 
FERMENTASI LIMBAH BUAH-BUAHAN
Senin, 7 Oktober 2013


Dosen Pembimbing : Adi Riyadhi, M.Si

Kelompok 4

Annisa Mardhatillah 
Deska Prayoga Fauzi Aditama
Putri Purnamayanti
Windi Sofiana

KIMIA 3 A

PROGRAM STUDI KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2013





I.                    TUJUAN
-          Mengetahui cara fermentasi limbah buah mangga
-          Untuk memperoleh etanol dari hasil fermentasi limbah buah mangga

II.                  DASAR TEORI
Mangga merupakan salah satu jenis buah yang paling populer dikonsumsi di dunia. Rasanya yang merupakan perpaduan manis dan asam memang mampu menyegarkan tenggorokan seketika. Tak hanya nikmat, konsumsi buah mangga juga ternyata memberi banyak manfaat bagi tubuh manusia antara lain mencegah kurangnya alkali di dalam tubuh, mengobati penyakit seperti sariawan, mencegah beberapa jenis kanker seperti usus besar, pancreas, kanker darah atau leukemia dan masih banyak lagi lainnya. Tak hanya untuk mengusir penyakit, manfaat konsumsi mangga secara teratur setiap hari juga bisa mempercantik kulit dan mencerahkan penglihatan seseorang. Beragam manfaat buah mangga ini tidak lepas dari kandungan buah mangga itu sendiri. Di dalamnya memang terdapat sejumlah senyawa yang dikenal memiliki efek positif bagi tubuh manusia.  
Berdasarkan uji klinis yang dilakukan oleh para ilmuan, ditemukan fakta ilmiah bahwa dalam 100 gram buah mangga setidaknya terdapat nilai gizi sebanyak 272 kJ. Gizi ini bersumber pada senyawa yang terdapat dalam buah berwarna cerah tersebut. Adapun sederet kandungan buah mangga, antara lain: 
-          Gula sebanyak 14,8%
-          Fiber atau serat alami sebanyak 1,8%. Fiber ini sangat baik untuk menyehatkan sistem pencernaan manusia.
-          Karbohidrat sebanyak 17,00 gram.
-          Lemak sebanyak 0,27 gram
-          Protein sebanyak 0,51 gram
-          Beta Karoten sebanyak 445 miligram atau setara dengan 4% dari 100 gram mangga
-          Thiamin atau vitamin B sebanyak 0,058 miligram
-          Riboflavin sebanyak 0,057 miligram
-          Niacin sebanyak 0,584 miligram
-          Asam Pantotenant sebanyak 0,160 miligram
-          Vitamin B6 sebanyak 0,134 miligram
-          Folat sebanyak 14 miligram
-          Vitamin C sebanyak 27,7 miligram
-          Vitamin E sebanyak 2,56 miligram
-          Kalsium sebanyak 10 miligram
-          Zat besi sebanyak 0,13 miligram
-          Magnesium sebanyak 9 miligram
-          Fosfor sebanyak 11 miligram
-          Kalium sebanyak 156 miligram
-          Seng sebanyak 0,04 miligram
Destilasi merupakan teknik pemisahan yang didasari atas perbedaan titik didih atau titik cair dari masing-masing zat penyusun dari campuran homogen. Dalam proses destilasi terdapat dua tahap proses yaitu tahap penguapan dan dilanjutkan dengan tahap pengembangan kembali uap menjadi cair atau padatan. Atas dasar ini maka perangkat peralatan destilasi menggunakan alat pemanas dan alat pendingin. Proses destilasi diawali dengan pemanasan, sehingga zat yang memiliki titik didih lebih rendah akan menguap. Uap tersebut bergerak menuju kondenser yaitu pendingin, proses pendinginan terjadi karena kita mengalirkan air kedalam dinding (bagian luar condenser), sehingga uap yang dihasilkan akan kembali cair. Proses ini berjalan terus menerus dan akhirnya kita dapat memisahkan seluruh senyawa-senyawa yang ada dalam campuran homogen tersebut.

III.                ALAT DAN BAHAN
Alat :
1. Destilator sederhana
 2. Botol
 3. Saringan
 4. Baskom 

Bahan :
  1. Limbah buah mangga
  2. Ragi


IV.                PROSEDUR KERJA
1.      500 gram limbah buah mangga dicampurkan 1,5 liter air matang.
2.      Dihancurkan dan diaduk sampai tercampur.
3.      Lalu disaring untuk diambil airnya.
4.      Air hasil saringan ditambahkan ragi sebanyak 0,7 gram.
5.      Kemudian dimasukkan ke dalam botol kosong dan didiamkan selama 3-4 hari.
6.  Dilakukan proses destilasi untuk menghasilkan etanol dari hasil fermentasi limbah buah mangga.


V.                  HASIL DAN PEMBAHASAN
a.      Hasil percobaan
-          Air mangga yang dihasilkan = 1 liter
-          Air mangga yang didestilasi = 200 ml
-          Lama destilasi = 1 jam
-          Hasil etanol yang didestilasi = 2 ml

b.      Pembahasan
Pada percobaan kali ini, membahas mengenai pembuatan etanol dari limbah buah mangga yang difermentasikan . Cara yang digunakan untuk memfermentasikan buah mangga ini tidak sulit, karena prosedurnya hampir sama dengan cara memfermentasikan tape ketan, hanya saja dengan bahan yang berbeda. Dengan menggunakan 500 gram buah mangga yang hampir busuk dan dengan campuran ragi roti, dihasilkan air hasil fermentasi kurang lebih sekitar 1000 ml. Lama waktu penyimpanan fermentasi dari limbah mangga sekitar 3-4 hari. Kemudian setelah itu, air perasan tersebut diambil sebanyak 200 ml untuk proses destilasi. Dari 200 ml air fermentasi, diperoleh hasil destilat sebesar 2 ml. Perbandingan volume sebelum dan sesudah didestilasi adalah 100 : 1. Perbandingan tersebut sangat jauh, karena adanya kesalahan dalam proses fermentasi. Selain itu, disebabkan oleh pembuatan alat destilasi sederhana yang masih belum sempurna dan suhu destilasi yang kurang optimum.

VI.                KESIMPULAN
Berdasarkan hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa:
1.      Fermentasi limbah buah mangga yang diperoleh sebanyak 1 liter.
2.    Air destilat yang diperoleh dari hasil destilasi sebanyak 2 ml dari 200 ml limbah buah mangga.
3.      Kadar etanol yang didapat hanya sedikit sekali.

VII.              DAFTAR PUSTAKA

Petrucci, Ralph H.1987.Kimia Dasar.Jilid 1.Surabaya:Erlangga

Minggu, 20 Oktober 2013

Laporan Pembuatan Bioetaol dari Tape Ketan Hitam



Pembuatan Bioetanol dari Tape Ketan Hitam

I.                   Tujuan : 1. Mengetahui cara pembuatan bioetanol dari fermentasi ketan hitam.
2. Mencari yield bioetanol dari ketan hitam secara farmentasi menggunakan           ragi tape.
3. Membuat etanol dari proses destilasi dengan menggunakan tape ketan hitam

II.                Dasar Teori :
Salah satu energi alternatif yang menjanjikan adalah bioetanol. Bioethanol adalah ethanol yang bahan utamanya dari tumbuhan dan umumnya menggunakan proses farmentasi. Ethanol atau ethyl alkohol C2H5OH berupa cairan bening tak berwarna, terurai secara biologis (biodegradable), toksisitas rendah dan tidak menimbulkan polusi udara yg besar bila bocor. Ethanol yg terbakar menghasilkan karbondioksida (CO2) dan air. Ethanol adalah bahan bakar beroktan tinggidan dapat menggantikan timbal sebagai peningkat nilai oktan dalam bensin. Dengan mencampur ethanol dengan bensin, akan mengoksigenasi campuran bahan bakar sehingga dapat terbakar lebih sempurna dan mengurangi emisi gas buang (seperti karbonmonoksida/CO).
Tapai merupakan hasil dari proses fermentasi dari bahan-bahan yang mengandung karbohidrat seperti beras ketan dan ubi kayu. Dalam proses fermentasi yang melibatkan aktifitas mikroorganisme ini terjadi proses pengubahan karbohidrat menjadi etanol, sehingga bahan makanan hasil fermentasi menjadi lebih enak rasanya. Pada proses pembuatan tapai, masyarakat biasanya menggunakan daun pisang sebagai pembungkusnya. Diantara bahan dasar pembuatan tapai yang sering digunakan adalah beras ketanhitam . Tapai dari beras ketan inilah yang paling banyak dijumpai di toko-toko makanan maupun di Super Market.

         Destilasi merupakan salah satu metode pemisahan campuran disamping metode yang lain seperti filtrasi, kristalisasi, sublimasi, Kromatografi. Destilasi didasarkan pada perbedaan titik didih campuran. Destilasi atau penyulingan digunakan untuk memisahkan campuran homogen (serba sama), seperti campuran air dan alcohol, air laut. Secara teoritis, destilasi juga dapat digunakan untuk memurnikan air sadah. Alat destilasi terdiri dari labu destilasi, thermometer, kondensor Leibig, pembakar spiritus/Bunsen, kaki tiga, dan statif. Pada pemisahan campuran alkohol, maka alkohol akan mendidih lebih awal dan menguap karena alcohol memiliki titik didih lebih rendah daripada titik didih air. Uap alkohol selanjutnya akan mencair setelah melalui pipa kondensor. Cairan inilah yang disebut destilat (alkohol) murni. Sedangkan pada labu hanya tinggal air. Dengan demikian, alcohol telah terpisah dari air.

III.             Alat dan Bahan :
·         Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah : baskom, kompor, panci kukus, penyaring ( saringan) dan alat destilasi sederhana ( yang sudah dibuat oleh kelompok kami).
·         Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah : ketan hitam (1/2 Kg ), ragi yang sudah dihaluskan, dan daun pisang.

IV.             Cara Kerja
Beras ketan hitam dibersihkan kemudian ditimbang sebanyak 500 gram, selanjutnya dimasak dengan cara dikukus menggunakan dandang dengan air sebanyak 300 ml. Setelah  masak kemudian didinginkan diatas nampan, selanjutnya dberi serbuk ragi atau yeast sebagai fermentatornya sebanyak 25 gram dan diaduk sampai rata. Langkah selanjutnya dimasukkan kedalam  wadah dari daun pisang ditutup rapat dan dibiarkan terjadi fermentasi selama 7 hari. Setalah itu tape ketan hitam tersebut disaring dan diambil kandungan air dalam tape tersebut, kemudian disimpan dalam botol yang tertutup rapat untuk didestilasi.

V.                Hasil Pengamatan dan Pembahasan

Pada percobaan kali ini bertujuan untuk menghasilkan alkohol melalui proses fermentasi dengan menggunakan alat destilasi sederhana. Bahan baku yang kami gunakan dalam proses fermentasi ini adalah beras ketan hitam. Pembuatan tape ketan hitam ini melalui proses fermentasi, ½ kg beras ketan hitam dicuci. Setelah itu di kukus, kemudian ketan hitam  diangkat dan di dinginkan. Lalu disiapkan baskom bersih yang di beri alat daun pisang, setelah itu ditaburkan ragi yang telah dihaluskan kedalam baskom tersebut hingga merata.
Setelah ketan hitam  yang telah didinginkan itu diletakkan diatas ragi yang berada di dalam baskom tersebut, kemudian bagian atas ketan hitam  ditaburkan lagi dengan ragi dan diaduk hingga merata. Lakukan hal tersebut berulang kali hingga ragi tersebut tersebar merata. Baskom yang telah berisi ketan hitam  tersebut ditutup dengan rapat menggunakan daun singkong dan kain lap, kemudian di diamkan selama 7 hari.
Setelah menunggu selama 7  hari akhirnya tape ketan hitam pun matang, kemudian disaring dan diambil airnya untuk proses detilasi. Setelah itu 200 ml air hasil perasan tape tersebut dimasukkan ke dalam salah satu kaleng dari alat destilasi sederhana yang kami buat. Alat destilasi diletakkan dengan posisi yang baik agar uap yang keluar dari kaleng dan tersalurkan memalui selang kecil tersebut dapat mengalir dengan baik. Setelah menunggu selama 1 jam lebih akhirnya uap yang keluar mulai bertambah dan ada beberapa tetes uap yang masuk ke kondensor dan mengalir keluar selang.  Maka dengan terpaksa kami harus menghentikan proses destilasi tersebut karena alat destilasi kami sudah tidak dapat digunakan lagi dan harus diperbaiki. Kesalahan yang telihat dari kejadian ini adalah kami kurang teliti dan kurang memperhatikan hal-hal yang tidak terduga dalam proses pembuatan alat destilasi sehingga selang kecil tersebut mudah terlepas dari kaleng dalam kondisi panas. Selain itu air hasil perasan tape juga kurang banyak sehingga uap yang keluar pun sangat sedikit (hanya 4 tetes).
VI.             Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa :
1.       Proses fermentasi yang dihasilkan 200 ml perasan air tape ketan hitam.
2.      Dari praktikum ini yang di hasilkan hanya 4 tetes etanol.
3.      Alat destilasi yang mesti diperbaiki dari segi selang yang terlalu panjang dan lilitannya yang kurang rapih.

                                                

Senin, 30 September 2013

Laporan Percobaan Pemurnian Alkohol

PEMURNIAN ALKOHOL 70 % 
DENGAN MENGGUNAKAN ALAT DESTILASI SEDERHANA
Senin, 30 September 2013


Dosen Pembimbing : Adi Riyadhi, M.Si

Kelompok 4

Annisa Mardhatillah 
Deska Prayoga Fauzi Aditama
Putri Purnamayanti
Windi Sofiana

KIMIA 3 A

PROGRAM STUDI KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2013



I.   Tujuan Praktikum

      - Memurnikan Alkohol dengan cara destilasi

II.  Dasar Teori

      Pemisahan dan pemurnian adalah proses pemisahan dua zat atau lebih yang saling bercampur serta untuk mendapatkan zat murni dari suatu zat yang telah tercemar atau tercampur. Campuran adalah setia contoh materi yang tidak murni, yaitu bukan sebuah unsur atau sebuah senyawa. Susunan suatu campuran tidak sama dengan sebuah zat, dapat bervariasi, campuran dapat berupa homogen dan heterogen. (Ralph H Ptrucci-Seminar, 1996, Kimia Dasar Jilid 1)
Campuran merupakan suatu materi yang dibuat dari penggabungan dua zat berlainan atau lebih menjadi satu zat fisik. Tiap zat dalam campuran ini tetap mempertahakan sifat-sifat aslinya. Sifat-sifat asli campuran :
-          Campuran terbentuk tanpa melalui reaksi kimia.
-          Mempunyai sifat zat asalnya
-          Terdiri dari dua jenis zat tunggal atau lebih.
-          Komposisinya tidak tetap.   
      Campuran terbagi menjadi dua (2) bagian, yaitu campuran homogen dan campuran heterogen.
Campuran homogen (larutan) adalah campuran unsur-unsur dan atau senyawa yang mempunyai susunan seragam dalam contoh itu tetapi berbeda susunan dari contoh lain, selain itu juga merupakan penggabungan zat tunggal atau lebih yang semua partikelnya menyebar merata sehingga membentuk satu fase. Yang disebut satu fase adalah zat dan sifat komposisinya sama antara satu bagian dengan bagian lain didekatnya dan juga campuran dapat dikatakan campuran homogen jika antara komponennya tidak terdapat bidang batas sehingga tidak terbedakan lagi walaupun menggunakan mikroskop ultra. Selain itu campuran homogen mempunyai komposisi yang sama pada setiap bagiannya dan juga memiliki sifat-sifat yang sama diseluruh cairan.
Campuran heterogen adalah campuran yang komponen-komponennya dapat memisahkan diri secara fisik karena perbedaan sifatnya dan penggabungan yang tidak merata antara dua zat tunggal atau lebih sehingga perbandingan komponen yang satu dengan yang lainnyatidak sama diberbagai bejana. Dan juga campuran dapat dikatakan campuran heterogen jika antara komponennya masihterdapat bidang batas dan sering kali dapat dibedakan tanpa menggunakan mikroskop, hanya dengan mata telanjang, serta campuran memiliki dua fase, sehingga sifat-sifatnya tidak seragam. (Ralph H Petrucci-Seminar, 1987. kimia dasar 1)
Campuran dapat dipisahkan melalui peristiwa fisika atau kimia. Pemisahan secara fisika tidak mengubah zat selama pemisahan, sedangkan secara kimia, satu komponen atau lebih direaksikan  dengan zat lain sehingga dapat dipisahkan.
Cara atau teknik pemisahan campuran bergantung pada jenis, wujud, dan sifat komponen yang terkandung didalamnya. Jika komponen berwujud padat dan cair , misalnya pasir dan air, dapat dipisahkan dengan saringan. Saringan bermacam-macam, mulai dari yang porinya besar sampai yang sangat halus, contohnya kertas saring dan selaput semi permiabel.  Kertas saring dipakai untuk memisahkan endapan atau padatan dari pelarut. Selaput semi permiabel dipakai untuk memisahkan suatu koloid dari pelarutnya. (Syukuri S. 1999, Kimia Dasar 1)
Karena perbedaan keadaan agregasi (bentuk penampilan materi) sangat mempengaruhi metode pemisahan dan pemurnian yang diperlukan, maka diadakan pembedaan :
a.       Memisahkan zat padat dari suspensi
·           Suspensi
Suspensi adalah sistem yang didalamnya mengandung partikel sangat kecil (padat), setengah padat, atau cairan tersebutr secara kurang lebih seragam dalam medium cair. Suatu suspensi dapat dipisahkan dengan penyaringan (filtrasi) dan sentrifugasi.
·           Penyaringan (filtrasi)
Operasi ini adalah pemisahan endapan dari larutan induknya, sasarannya adalah agar endapan dan medium penyaring secara kuantitatif bebas dari larutan. Media yang digunakan untuk penyaring adalah kertas saring,  penyaring asbes murni atau platinum, lempeng berpori yang terbuat dari kaca bertahanan misalnya pyrex dari silika atau porselin.
·           Sentrifugasi (pemusingan)
Sentrifugasi dapat digunakan untuk memisahkan suspensi yang jumlahnya sedikit. Sentrifugasi digunakan untuk memutar dengan cepat hingga gaya sentrifugal beberapa kali lebih besar daripada gorsa berat, digunakan untuk mengendapkan partikel tersuspensi.
b.        Memisahkan zat padat dari larutan
Zat terlarut padat tidak dapat dipisahkan dari larutannya dengan penyaringan dan pemusingan (sentrifugasi). Zat padat terlarut dapat dipisahkan melalui penguapan atau kristalisasi.
                                -       Penguapan
Pada penguapan, larutan dipanaskan sehingga pelarutnya meninggalkan zat terlarut. Pemisahan terjadi karena zat terlarut mempunyai titik didih yang lebih tinggi daripada pelarutnya.
                                -       Kristalisasi
Kristalisasi adalah larutan pekat yang didinginkan sehingga zat terlarut mengkristal. Hal itu terjadi karena kelarutan berkurang ketika suhu diturunkan. Apabila larutan tidak cukup pekat, dapat dipekatkan lebih dahulu dengan jalan penguapan, kemudian dilanjutkan dengan pendinginan melalui kristalisasi diperoleh zat padat yang lebih murni karena komponen larutan yang lainnya yang kadarnya lebih kecil tidak ikut mengkristal.
                                -       Rekristalisasi
Teknik pemisahan dengan rekristalisasi (pengkristalan kembali) berdasarkan perbedaan titik beku komponen. Perbedaan itu harus cukup besar, dan sebaiknya komponen yang akan dipisahkan berwujud padat dan yang lainnya cair pada suhu kamar. Contohnya garam dapat dipisahkan dari air karena garam berupa padatan. Air garam bila dipanaskan perlahan dalam bejana terbuka, maka air akan menguap sedikit demi sedikit. Pemanasan dihentikan saat larutan tepat jenuh. Jika dibiarkan akhirnya terbentuk kristal garam secara perlahan. Setelah pengkristalan sempurna garam dapat dipisahkan dengan penyaring. (Syukri S. 1991. Kimia Dasar 1)
c.          Memisahkan campuran zat cair
Zat cair dapat dipisahkan dari campurannya melalui distilasi. Campuran dua jenis cairan yang tidak saling melarutkan dapat dipisahkan dengan dekantasi dan corong pisah.
                                -       Destilasi
Dasar pemisahan dengan destilasi adalah perbedaan titik didih dua cairan atau lebih. Jika canpuran dipanaskan maka komponen yang titik didihnya lebih rendah akan menguap lebih dulu. Dengan mengatur suhu secara cermat kita dapat menguapkan dan kemudian mengembunkan komponen demi komponen secara bertahap. Pengmbunan terjadi dengan mengalirkan uap ketabung pendingin. Contohnya memisahkan campuran air dan alkohol.
Titik didih air dan alkohol masing-masing 100˚C dan 78˚C. Jika campuran dipanaskan (dalam labu destilasi) dan suhu diatur sekitar 78˚C, maka alkohol akan menguap sedikit demi sedikit. Uap itu mengembun dalam pendingin dan akhirnya didapatkan cairan alkohol murni. (Syukri S. 1999. Kimia Dasar 1)
                                -       Dekantasi (pengendapan)
Dekantasi (pengendapan) merupakan proses pemisahan suatu zat dari campurannya dengan zat lain secara pengendapan didasarkan pada massa jenis yang lebih kecil akan berada pada lapisan bagian bawah atau mengendap, contohnya air dan pasir. selain itu zat terlarut (yang akan dipisahkan) diproses diubah menjadi bentuk yang tak larut, lalu dipisahkan dari larutan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan endapan:
-  Suhu
                                          -  Ph
                                          -  Efek garam
                                          -  Kompleksasi
                                          -  Derajat supersaturasi
                                          -  Sifat pelarut
                                          (Husein H. Bahti. 1998. Teknik Pemisahan Kimia dan Fisaka)
Untuk pelarut-pelarut yang lebih ringan dari air, dapat digunakan corong pemisah yang dimodifikasi, yang dirancang untuk menyederhanakan penyingkiran fase yang lebih ringan. Setelah keadaan seimbang, lapisan yang lebih ringan (misalcter) dan lapisan air, didesak keatas dengan memasukkan merkurium melalui kran pada dasar bulatan corong, dengan bantuan sebuah bola pembantu pengatur permulaan merkurium.
-    Ekstraksi
Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan substansi zat dari campurannya dengan menggunakan pelarut yang sesuai. Prinsip metode ini didasarkan pada distribusi zat terlarut dengan perbandingan tertentu antara dua pelarut yang tidak saling bercampur seperti eter kloroform, karbon tetraklorida dan karbon disulfida.
Dalam industri, ekstraksi pelarut sering kali dilaksanakan, dimana tetesan pelarut yang lebih ringan bergerak ke atas melewati arus ke bawah lambat-lambat dari pelarut yang lebih berat. Penerapan teknik ini di tunjukan untuk mengekstrak DDT dan airke minyak.
Ekstraksi arus lawan semacam itu sangat efisien karan pada ujung bawah tabung, pelarut yang telah kehilangan hamper semua zat terlarutnya di ekstrak oleh pelarut lain yang masih bersih.
Diantar berbagai metode pemisahan  ekstraksi merupakan metode yang paling baik dan paling popular, alas an utamanya karena metode ini dapat dilakukan baik dalam tingkat makro maupun mikro. Pemisah tidak memerlukan alat khusus atau canggih, melainkan hanya memerlukan corong pisah. Pemisahan yang dilakukan sangat sederhana, bersi, cepat dan mudah.
Sublimasi adalah diman suatu padatan diuapkan tanpa melalui peleburan dan hanya diembunkan uapnya dengan mendinginkannya, langsung kembali dalam keadaan padat.


Syarat sublimasi :
-          Padatan akan menyublin bila tekanan uapnya mencampai tekanan atmosfer di bawah titk lelehnya.
-          Secara teoritis setiap zat yang dapat didestilasikan tanpa tanpa terurai, dapat di sublimasikan pada suhu dan tewkanan yang cocok.
-          Penggunaan sublimasi :
Terbatas pada pemisahan senyawa-senyawa Kristal mengaup dari senyawa-senyawa yang sukar menguap atau dari senyawa-senyawa yang menguap tapi tdak mengembun pada kondisi yang di gunakan.
-          Senyawa-senyawa prgani seperti :
Naftalena, asam benzoate, asam salisilat, fosfor, sakarin, kafein, kinin dan lain-lain.
-          Senyawa-senyawa organic :
I2, S, AS, AS2O, klorida dari logam-logam Hg, Ag, Al dan sebagainya.
-          Sublimasi yang terjadi sebenarnya hanya dapat terjadi jika tekanan uap parsial dari senyawa itu lebih rendah dari pada tekanan titik berkaki 3, misalnya pada naftalena yang mem[unyai titik berkaki 3 790 dan tenana keseimbangan 179 mm hg, jia di panaskan perlahan-lahandi bawah 1790naftalena akan menguap tanpa meleleh terlebih dahulu dengan demikian penguapan akan berjalan terus sehingga padatan hilang.


III.  Alat dan Bahan

                Alat yang digunakan pada percobaan kali ini yaitu : Gelas Beker, Statif, Termometer, Penanggas air dan Alat Destilasi Sederhana ( Cangkir aluminium, selang, kondensor) .
                  Sedangkan bahan yang digunakan pada percobaan kali ini yaitu : Alkohol yang telah bercampur dengan air, air biasa, dan es batu.


IV.   Prosedur Kerja

                   Pertama - tama alat-alat disusun seperti pada gambar lalu sampel yang akan diuji dimasukkan ke cangkir yang berada di atas penanggas kemudian es batu dimasukkan ke dalam kondensor setelah itu suhu diatur sampai 70 derajat celcius dan terakhir ditunggu tetesan yang akan keluar melalui selang .

V.    Hasil dan Pembahasan

                     Sampel                   : 60 ml
                     Suhu luar air            : 80 derajat celcius
                     Suhu dalam cangkir : 70 derajat celcius
                     Lama Destilasi         : 1 jam
                     Hasil Destilat           : 2 ml


                 
                Pada percobaan kali ini telah dilakukan percobaan mengenai Pemurnian alkohol yang telah bercampur dengan air. Pemisahan dilakukan untuk memisahkan dua zat atau lebih yang saling bercampur dan pemurnian dilakukan untuk mendapatkan zat murni dari suatu zat yang telah tercemar oleh zat lain.
                     Pemisahan dan pemurnian adalah proses pemisahan dua zat atau lebih yang saling bercampur serta untuk mendapatkan zat murni dari suatu zat yang telag tercemar atau tercampur.
                      Destilasi merupakan teknik pemisahan yang didasari atas perbedaan perbedaan titik didik atau titik cair dari masing-masing zat penyusun dari campuran homogen. Dalam proses destilasi terdapat dua tahap proses yaitu tahap penguapan dan dilanjutkan dengan tahap pengembangan kembali uap menjadi cair atau padatan. Atas dasar ini maka perangkat peralatan destilasi menggunakan alat pemanas dan alat pendingin, Proses destilasi diawali dengan pemanasan, sehingga zat yang memiliki titik didih lebih rendah akan menguap, dimana pada percobaan ini zat yang memiliki titik didih yang lebih rendah adalah alkohol yaitu sebesar 70 derajat celcius. Uap tersebut bergerak menuju kondenser yaitu pendingin, proses pendinginan terjadi karena kita mengalirkan air kedalam dinding (bagian luar condenser), sehingga uap yang dihasilkan akan kembali cair. Proses ini berjalan terus menerus dan akhirnya kita dapat memisahkan seluruh senyawa-senyawa yang ada dalam campuran homogen tersebut.
                     Namun hasil yang di dapat hanyalah 2 ml, jumlah tersebut sangat sedikit dari yang diharapkan. Hal tersebut mungkin terjadi karena beberapa kesalahan diantaranya : Suhu yang kurang atau terlalu tinggi dari titik didih alkohol, waktu pemanasan yang kurang lama, alat yang kurang berfungsi dengan baik, kecerobohan praktikan.


Pengujian hasil destilat dengan cara dibakar

VI.   Kesimpulan

  • Zat-zat yang telah tercampur dan tercemar dapat dipisahkan dengan menggunakan metode pemisahan dan pemurnian. Pemisahan dilakukan untuk memisahkan campuran, sedangkan pemurnian dilakukan untuk pemurnian suatu campuran. Ada bermacam-macam jenis pemisahan dan pemurnian, salah satunya adalah destilasi
  • Pemurnian dapat dilakukan dengan proses destilasi, dasar pemisahan dengan destilasi adalah perbedaan titik didih dua cairan atau lebih. Jika canpuran dipanaskan maka komponen yang titik didihnya lebih rendah akan menguap lebih dulu.


Daftar Pustaka


Petrucci, Ralph H dan seminar. 1987. Kimia Dasar. Jilid 1. Surabaya: Erlangga.
Petrucci. 1996. Kimia Dasar. Jilid 1.Surabaya: Erlangga.
           diakses pada 1 Oktober 2013          pukul 1:41 Am